PRESENTASION SKILLS
ASSALAMUAIKUM.WR.WB
Presentasion Skills (Kemampuan Presentasi)
Ya mungkin memang manusia diciptakan dengan memiliki kekurangan dan juga kelebihan.Namun dari itu semualah Allah SWT menciptakan kita untuk saling mengisi kekurangan terhadap saudara kita.kemampuan yang dimiliki setiap manusia memang berbeda,dari pada itu kita sebagai manusia biasa harus bijak dalam menggunkan kemampuan kita terhadap orang lain.
Diartikel yang singkat ini saya akan membahas tentang kemampuan saya yang mungkin sudah banyak orang miliki sebelum saya, saya memiliki kemampuan Presentasi dalam berbagai hal.
apasih Presentasion Skills ? Presentasion Skills adalah kemampuan seseoranhg dalam memperkenalkan,menjelaskan dan memasarkan suatu objek baik barang ataupun jasa.oelh karena itu terkadang saya merasa percaya diri ketika disuruh untuk presentasi dalam berbagai hal,ya walaupun masih diruang lingkup kampus.saya berpikir kalau tidak saat ini kapan lagi saya bisa memunculkan bakat dan juga mengasah mental saya untuk melakukan hal yang sebenarnya bisa saya bilang cukup sulit itu,karena untuk membangun skills berpresentasi seorang individu di tuntut untuk pintar berbicara,menguasai materi dan juga percaya diri. tapi dari itu semua ada beberapa manfaat dari beraninya mepresentasikan sesuatu yaitu :
1. Tugas presentasi itu luas, tak hanya berbicara menggunakan power point. Secara definitif presentasi itu sendiri adalah suatu sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan dengan cara menjelaskan atau menguraikan suatu materi secara lisan dan sistematis dengan harapan akan berlaku efektif baik pembawa presentasi maupun penerima. Presentasi tak hanya dengan power point. Menceritakan pengalaman liburan ke Candi Borobudur itu bisa disebut presentasi. Para siswa berbicara di depan kelas bagaimana tentang pekerjaan Ayah mereka itu presentasi. Para siswa menceritakan tentang bagaimana pengalaman mereka menanam cabai sambil membawa tanaman cabainya di depan kelas itu presentasi. Presentasi itu membuat para siswa belajar berbicara di depan kelas. Guru menentukan sistematikanya, apa yang harus dibicarakan di awal, di tengah, dan di akhir agar apa yang dibicarakan efektif dan sistematis. Bahkan guru memberi contoh terlebih dahulu secara komplit agar siswa bisa menyimak, merekam, kemudian berinovasi, dan menampilkan “Ini lho presentasi saya”. Komputer dan proyektor hanya sarana untuk memudahkan berbicara di depan kelas. Sebagai panduan apa yang akan kita bicarakan. Dalam tugas presentasi hendaknya menggunakan sarana yang bervariasi. Penggunaan komputer terkadang malah menurunkan kemampuan bicara anak, karena mereka umumnya lebih terpaku ke komputer ketimbang audience. Sehingga bukan presentasi yang didapat melainkan pembacaan teks. Suasana pembelajaran justru menjadi membosankan. Bayangkan saja, anda duduk manis lalu dibacakan dongeng. Mengantuk pastinya.
2.Tugas presentasi sebaiknya tidak untuk materi utama. Sering kita dapati guru memberikan tugas agar siswa presentasi satu BAB penuh, atau satu BAB dibagi kedalam beberapa kelompok untuk membahas masing-masing sub BAB. Sementara BAB yang akan dibahas belum sama sekali dipelajari siswa. Siswa diharuskan belajar sendiri, menggali sumber belajar lain, bertanya kesana-sini. Yang repot umumnya orang tua, yang banyak mengajar justru guru les atau guru bimbel yang menjadi sasaran berbagai pertanyaan siswa. Hal ini adalah strategi pembelajaran yang tidak tepat karena hanya banyak membuang waktu siswa. Siswa tidak akan optimal mempelajari sendiri materi pokok suatu BAB, meskipun dibarengi dengan mencari di internet, membaca buku, hingga bertanya ke semua orang. Selanjutnya saat presentasi pastinya akan banyak kekurangan, siswa lain yang menjadi audience pun tidak bertambah pengetahuannya. Meskipun akhirnya guru turun tangan sebagai pahlawan kesiangan untuk meluruskan hal-hal yang bengkok, alangkah banyaknya waktu yang terbuang bagi para siswa di kelas dan diluar kelas untuk hal-hal yang ujung-ujungnya tidak sempurna. Memang ada nilai proses disana, tapi tolong bedakan seorang petani yang berproses untuk menanam padi dengan sarjana elektronika yang tak tahu menahu tentang bercocok tanam namun mendadak kita haruskan untuk terjun ke sawah untuk berproses menanam padi. Sama-sama ada prosesnya namun yang satu ada hasil yang satu bisa jadi nihil. Ketika memberi tugas presentasi pertama-tama para guru harus bisa membedakan antara siswa dengan mahasiswa. Mahasiswa kuliah di satu jurusan yang memang dia inginkan dan dia minat untuk belajar di jurusan itu (meskipun tak semua begitu, tapi ambilah yang normal). Saat mahasiswa diberikan tugas presentasi mengenai materi tertentu dalam perkuliahannya, dipastikan mahasiswa tersebut dengan penuh kedewasaan tentunya senang hati mengerjakannya, mencoba menggali berbagai sumber dan mempresentasikannya di hadapan dosen. Sementara siswa kita, minatnya pastinya berbeda-beda. Mereka dengan ikhlas dijejali beragam mata pelajaran, mempelajari serta memahami semuanya untuk bisa lulus sekolah. Mereka sekolah bukan untuk membaca lalu menyusun materi pelajaran dan menjelaskan di depan kelas karena itu tugas guru. Mereka sekolah untuk membuka jendela ilmu pengetahuan, menggali minat dan potensi diri, memetakan kecerdasan untuk wawasan dalam menentukan cita-cita masa depan. Dan tak lupa di sekolah mereka diharuskan belajar berbagai kemampuan dasar untuk mendukung kehidupan mereka di masa depan. Tugas presentasi, diberikan kepada siswa bukan untuk membahas materi pokok yang seharusnya diajarkan oleh guru melainkan materi-materi sisipan serta analisa yang membutuhkan kemampuan apersepsi siswa terhadap suatu hal. Guru harusnya mengajarkan materi pokok semenarik mungkin hingga menumbuhkan minat anak terhadap materi yang akan dipelajari, minat akan menumbuhkan motivasi, motivasi akan menjalar menjadi rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang bisa menjadikan siswa belajar mandiri, mengkolaborasikan berbagai sumber belajar dan mengkajinya secara ilmiah. Jika siswa sudah sampai tahap ini maka akan mudah jika kita mengharuskan mereka mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari. Sebagai contoh saat mempelajari tentang pencemaran lingkungan, segala definisi, konsep dasar, fakta, serta klasifikasi materi diperoleh melalui pembelajaran terbimbing oleh guru secara menarik hingga siswa tumbuh minat untuk mempelajari tentang pencemaran lingkungan disekitarnya, setelah siswa termotivasi, berikan tugas misal kelompok A ditugaskan mempresentasikan tentang bagaimana cara mengatasi tumpahan minyak dilaut agar tidak mencemari laut. Tugasnya jelas, fokus, singkat, bermanfaat, dan bermakna. Siswa pun mencari dan mempresentasikan di depan kelas, siswa antusias berbagi informasi baru, melakukan tanya jawab, kelas menjadi dinamis, tujuan pembelajaran insya Allah tercapai. Bandingan dengan guru yang memberi tugas presentasi untuk menjelaskan tentang pengertian ekosistem dan jenis-jenisnya yang sesungguhnya materinya sudah ada di buku. Siswa yang harus menjelaskan di depan kelas pastinya akan berfikir, “haduh capek ngetiknya, gak mungkin dihafal (karena belum memahami materi), dipindahin saja semua isi bukunya, belum kalau ada istilah sulit yang membuat saya tidak mengerti, mau bertanya sama siapa, pasti nanti teman-teman bertanya pada saya, saya matu presentasi di depan kelas”. Belum mulai mengerjakan tugas, minat sudah hancur lebur. Bagaimana mau termotivasi? Bagaimana mau belajar? Seringkah kita melihat teman kita yang presentasi dengan menatap slide di komputernya tanpa ada kontak mata dengan audience. Kemudian slide presentasinya pun berisi materi yang di copy paste total seperti teks pidato yang tinggal dibaca saja. Nah mungkin rekan kita awalnya berpemikiran sama dengan siswa di atas.
3. Tugas presentasi itu harus punya sistematika penugasan untuk mencapai tujuan pembelajaran Pemberian tugas presentasi di depan kelas harus disertai tujuan yang jelas. Tujuan presentasi umumnya agar siswa lebih memahami materi, karena dengan diberi tugas mereka pasti membaca. Tujuan lainnya agar siswa belajar bekerja dalam kelompok, mampu mempresentasikan suatu materi, mengasah kemampuan berbicara dan menjawab pertanyaan di depan umum, serta banyak lagi tujuan lainnya. Jika tujuan dari presentasi adalah agar siswa pandai secara kognitif karena siswa akan memahami materi yang dipresentasikannya, maka tak ada jaminan untuk hal itu. Pemahaman itu butuh input yang valid dan intens. Guru belum pernah mengajarkan materi A namun siswa diberi tugas mempresentasikan materi A. Dijamin standar kognitifnya tidak akan maksimal. Untuk menyiasatinya maka guru haruslah memberi ilmu pengantar terlebih dahulu, siswa harus memahami konsep dasar sedangkan yang akan dipresentasikan adalah pengembangan dari konsep dasarnya. Jika tujuan dari presentasi agar siswa bekerja sama dalam tim maka guru harus membimbing siswa untuk melakukan pembagian tugas. Hal ini untuk keadilan, agar siswa dapat memahami posisinya dalam tim. Kita kerja saja butuh SOP (Standard Operating Procedure), begitu juga dengan siswa. Kita berikan pilihan tugas apa saja yang harus dikerjakan dalam kelompok serta tinggi rendah penilaiannya agar tiap siswa berharga dalam tim. Pembagian kelompok pun jangan terlalu besar. Jika tugas presentasi satu kelompok lima sampai tujuh orang bisa dipastikan akan banyak siswa yang hanya numpang nama. Jika tujuan dari presentasi agar siswa mampu berbicara di depan kelas dan pandai dalam menjawab pertanyaan kondisikanlah agar setiap anggota kelompok berbicara. Guru harus membuat sistematika presentasi standar yang baik dan benar dan mencontohkannya di hadapan para siswa, sehingga siswa memiliki model untuk dicontoh, dikaji, dipelajari, dan bahkan diinovasikan ke dalam gaya mereka masing-masing. Guru harus menjadi moderator adikuasa yang menentukan siapa yang harus berbicara dan menjawab pertanyaan, sehingga semua anggota kelompok bersiap sedia dengan hal yang akan dipresentasikan. Guru pun harus memfasilitasi jadwal konsultasi bagi siswa yang akan maju sehingga siswa benar-benar siap saat presentasi. Siswa siswa maju ke depan kelas dan mempresentasikan sebuah informasi untuk difahami orang lain tentang informasi yang dibicarakan dan di beri tepuk tangan meriah bukan untuk di bully atau ditertawakan karena ketidaksiapannya. Kesalahan paling banyak adalah guru memberikan tugas presentasi tanpa acuan, tanpa sistematika, yang penting siswa harus buat saja tanpa tahu mana yang tepat dan yang tidak tepat. Kemudian saat presentasi guru lebih banyak mengomentari yang presentasi dari segi kekurangannya atau bahkan tidak memberi apresiasi sedikit pun. Lalu buat apa presentasi, pake metode ceramah saja kalau begitu.
mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan semoga dengan artikel yang masih jauh dari kata sempurna dapat memberikan motivasi bagi pembaca dan pembuat artikel itu sendiri sekian dari saya mohon maaf apa bila ada dalam kesalahan menulis atau kesamaan dalam pembuatan kata kata karena saya hanya manusia biasa yang penuh kekurangan
Wassalamualakium .WR.WB
Presentasion Skills (Kemampuan Presentasi)
Ya mungkin memang manusia diciptakan dengan memiliki kekurangan dan juga kelebihan.Namun dari itu semualah Allah SWT menciptakan kita untuk saling mengisi kekurangan terhadap saudara kita.kemampuan yang dimiliki setiap manusia memang berbeda,dari pada itu kita sebagai manusia biasa harus bijak dalam menggunkan kemampuan kita terhadap orang lain.
Diartikel yang singkat ini saya akan membahas tentang kemampuan saya yang mungkin sudah banyak orang miliki sebelum saya, saya memiliki kemampuan Presentasi dalam berbagai hal.
apasih Presentasion Skills ? Presentasion Skills adalah kemampuan seseoranhg dalam memperkenalkan,menjelaskan dan memasarkan suatu objek baik barang ataupun jasa.oelh karena itu terkadang saya merasa percaya diri ketika disuruh untuk presentasi dalam berbagai hal,ya walaupun masih diruang lingkup kampus.saya berpikir kalau tidak saat ini kapan lagi saya bisa memunculkan bakat dan juga mengasah mental saya untuk melakukan hal yang sebenarnya bisa saya bilang cukup sulit itu,karena untuk membangun skills berpresentasi seorang individu di tuntut untuk pintar berbicara,menguasai materi dan juga percaya diri. tapi dari itu semua ada beberapa manfaat dari beraninya mepresentasikan sesuatu yaitu :
1. Tugas presentasi itu luas, tak hanya berbicara menggunakan power point. Secara definitif presentasi itu sendiri adalah suatu sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan dengan cara menjelaskan atau menguraikan suatu materi secara lisan dan sistematis dengan harapan akan berlaku efektif baik pembawa presentasi maupun penerima. Presentasi tak hanya dengan power point. Menceritakan pengalaman liburan ke Candi Borobudur itu bisa disebut presentasi. Para siswa berbicara di depan kelas bagaimana tentang pekerjaan Ayah mereka itu presentasi. Para siswa menceritakan tentang bagaimana pengalaman mereka menanam cabai sambil membawa tanaman cabainya di depan kelas itu presentasi. Presentasi itu membuat para siswa belajar berbicara di depan kelas. Guru menentukan sistematikanya, apa yang harus dibicarakan di awal, di tengah, dan di akhir agar apa yang dibicarakan efektif dan sistematis. Bahkan guru memberi contoh terlebih dahulu secara komplit agar siswa bisa menyimak, merekam, kemudian berinovasi, dan menampilkan “Ini lho presentasi saya”. Komputer dan proyektor hanya sarana untuk memudahkan berbicara di depan kelas. Sebagai panduan apa yang akan kita bicarakan. Dalam tugas presentasi hendaknya menggunakan sarana yang bervariasi. Penggunaan komputer terkadang malah menurunkan kemampuan bicara anak, karena mereka umumnya lebih terpaku ke komputer ketimbang audience. Sehingga bukan presentasi yang didapat melainkan pembacaan teks. Suasana pembelajaran justru menjadi membosankan. Bayangkan saja, anda duduk manis lalu dibacakan dongeng. Mengantuk pastinya.
2.Tugas presentasi sebaiknya tidak untuk materi utama. Sering kita dapati guru memberikan tugas agar siswa presentasi satu BAB penuh, atau satu BAB dibagi kedalam beberapa kelompok untuk membahas masing-masing sub BAB. Sementara BAB yang akan dibahas belum sama sekali dipelajari siswa. Siswa diharuskan belajar sendiri, menggali sumber belajar lain, bertanya kesana-sini. Yang repot umumnya orang tua, yang banyak mengajar justru guru les atau guru bimbel yang menjadi sasaran berbagai pertanyaan siswa. Hal ini adalah strategi pembelajaran yang tidak tepat karena hanya banyak membuang waktu siswa. Siswa tidak akan optimal mempelajari sendiri materi pokok suatu BAB, meskipun dibarengi dengan mencari di internet, membaca buku, hingga bertanya ke semua orang. Selanjutnya saat presentasi pastinya akan banyak kekurangan, siswa lain yang menjadi audience pun tidak bertambah pengetahuannya. Meskipun akhirnya guru turun tangan sebagai pahlawan kesiangan untuk meluruskan hal-hal yang bengkok, alangkah banyaknya waktu yang terbuang bagi para siswa di kelas dan diluar kelas untuk hal-hal yang ujung-ujungnya tidak sempurna. Memang ada nilai proses disana, tapi tolong bedakan seorang petani yang berproses untuk menanam padi dengan sarjana elektronika yang tak tahu menahu tentang bercocok tanam namun mendadak kita haruskan untuk terjun ke sawah untuk berproses menanam padi. Sama-sama ada prosesnya namun yang satu ada hasil yang satu bisa jadi nihil. Ketika memberi tugas presentasi pertama-tama para guru harus bisa membedakan antara siswa dengan mahasiswa. Mahasiswa kuliah di satu jurusan yang memang dia inginkan dan dia minat untuk belajar di jurusan itu (meskipun tak semua begitu, tapi ambilah yang normal). Saat mahasiswa diberikan tugas presentasi mengenai materi tertentu dalam perkuliahannya, dipastikan mahasiswa tersebut dengan penuh kedewasaan tentunya senang hati mengerjakannya, mencoba menggali berbagai sumber dan mempresentasikannya di hadapan dosen. Sementara siswa kita, minatnya pastinya berbeda-beda. Mereka dengan ikhlas dijejali beragam mata pelajaran, mempelajari serta memahami semuanya untuk bisa lulus sekolah. Mereka sekolah bukan untuk membaca lalu menyusun materi pelajaran dan menjelaskan di depan kelas karena itu tugas guru. Mereka sekolah untuk membuka jendela ilmu pengetahuan, menggali minat dan potensi diri, memetakan kecerdasan untuk wawasan dalam menentukan cita-cita masa depan. Dan tak lupa di sekolah mereka diharuskan belajar berbagai kemampuan dasar untuk mendukung kehidupan mereka di masa depan. Tugas presentasi, diberikan kepada siswa bukan untuk membahas materi pokok yang seharusnya diajarkan oleh guru melainkan materi-materi sisipan serta analisa yang membutuhkan kemampuan apersepsi siswa terhadap suatu hal. Guru harusnya mengajarkan materi pokok semenarik mungkin hingga menumbuhkan minat anak terhadap materi yang akan dipelajari, minat akan menumbuhkan motivasi, motivasi akan menjalar menjadi rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang bisa menjadikan siswa belajar mandiri, mengkolaborasikan berbagai sumber belajar dan mengkajinya secara ilmiah. Jika siswa sudah sampai tahap ini maka akan mudah jika kita mengharuskan mereka mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari. Sebagai contoh saat mempelajari tentang pencemaran lingkungan, segala definisi, konsep dasar, fakta, serta klasifikasi materi diperoleh melalui pembelajaran terbimbing oleh guru secara menarik hingga siswa tumbuh minat untuk mempelajari tentang pencemaran lingkungan disekitarnya, setelah siswa termotivasi, berikan tugas misal kelompok A ditugaskan mempresentasikan tentang bagaimana cara mengatasi tumpahan minyak dilaut agar tidak mencemari laut. Tugasnya jelas, fokus, singkat, bermanfaat, dan bermakna. Siswa pun mencari dan mempresentasikan di depan kelas, siswa antusias berbagi informasi baru, melakukan tanya jawab, kelas menjadi dinamis, tujuan pembelajaran insya Allah tercapai. Bandingan dengan guru yang memberi tugas presentasi untuk menjelaskan tentang pengertian ekosistem dan jenis-jenisnya yang sesungguhnya materinya sudah ada di buku. Siswa yang harus menjelaskan di depan kelas pastinya akan berfikir, “haduh capek ngetiknya, gak mungkin dihafal (karena belum memahami materi), dipindahin saja semua isi bukunya, belum kalau ada istilah sulit yang membuat saya tidak mengerti, mau bertanya sama siapa, pasti nanti teman-teman bertanya pada saya, saya matu presentasi di depan kelas”. Belum mulai mengerjakan tugas, minat sudah hancur lebur. Bagaimana mau termotivasi? Bagaimana mau belajar? Seringkah kita melihat teman kita yang presentasi dengan menatap slide di komputernya tanpa ada kontak mata dengan audience. Kemudian slide presentasinya pun berisi materi yang di copy paste total seperti teks pidato yang tinggal dibaca saja. Nah mungkin rekan kita awalnya berpemikiran sama dengan siswa di atas.
3. Tugas presentasi itu harus punya sistematika penugasan untuk mencapai tujuan pembelajaran Pemberian tugas presentasi di depan kelas harus disertai tujuan yang jelas. Tujuan presentasi umumnya agar siswa lebih memahami materi, karena dengan diberi tugas mereka pasti membaca. Tujuan lainnya agar siswa belajar bekerja dalam kelompok, mampu mempresentasikan suatu materi, mengasah kemampuan berbicara dan menjawab pertanyaan di depan umum, serta banyak lagi tujuan lainnya. Jika tujuan dari presentasi adalah agar siswa pandai secara kognitif karena siswa akan memahami materi yang dipresentasikannya, maka tak ada jaminan untuk hal itu. Pemahaman itu butuh input yang valid dan intens. Guru belum pernah mengajarkan materi A namun siswa diberi tugas mempresentasikan materi A. Dijamin standar kognitifnya tidak akan maksimal. Untuk menyiasatinya maka guru haruslah memberi ilmu pengantar terlebih dahulu, siswa harus memahami konsep dasar sedangkan yang akan dipresentasikan adalah pengembangan dari konsep dasarnya. Jika tujuan dari presentasi agar siswa bekerja sama dalam tim maka guru harus membimbing siswa untuk melakukan pembagian tugas. Hal ini untuk keadilan, agar siswa dapat memahami posisinya dalam tim. Kita kerja saja butuh SOP (Standard Operating Procedure), begitu juga dengan siswa. Kita berikan pilihan tugas apa saja yang harus dikerjakan dalam kelompok serta tinggi rendah penilaiannya agar tiap siswa berharga dalam tim. Pembagian kelompok pun jangan terlalu besar. Jika tugas presentasi satu kelompok lima sampai tujuh orang bisa dipastikan akan banyak siswa yang hanya numpang nama. Jika tujuan dari presentasi agar siswa mampu berbicara di depan kelas dan pandai dalam menjawab pertanyaan kondisikanlah agar setiap anggota kelompok berbicara. Guru harus membuat sistematika presentasi standar yang baik dan benar dan mencontohkannya di hadapan para siswa, sehingga siswa memiliki model untuk dicontoh, dikaji, dipelajari, dan bahkan diinovasikan ke dalam gaya mereka masing-masing. Guru harus menjadi moderator adikuasa yang menentukan siapa yang harus berbicara dan menjawab pertanyaan, sehingga semua anggota kelompok bersiap sedia dengan hal yang akan dipresentasikan. Guru pun harus memfasilitasi jadwal konsultasi bagi siswa yang akan maju sehingga siswa benar-benar siap saat presentasi. Siswa siswa maju ke depan kelas dan mempresentasikan sebuah informasi untuk difahami orang lain tentang informasi yang dibicarakan dan di beri tepuk tangan meriah bukan untuk di bully atau ditertawakan karena ketidaksiapannya. Kesalahan paling banyak adalah guru memberikan tugas presentasi tanpa acuan, tanpa sistematika, yang penting siswa harus buat saja tanpa tahu mana yang tepat dan yang tidak tepat. Kemudian saat presentasi guru lebih banyak mengomentari yang presentasi dari segi kekurangannya atau bahkan tidak memberi apresiasi sedikit pun. Lalu buat apa presentasi, pake metode ceramah saja kalau begitu.
mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan semoga dengan artikel yang masih jauh dari kata sempurna dapat memberikan motivasi bagi pembaca dan pembuat artikel itu sendiri sekian dari saya mohon maaf apa bila ada dalam kesalahan menulis atau kesamaan dalam pembuatan kata kata karena saya hanya manusia biasa yang penuh kekurangan
Wassalamualakium .WR.WB
Komentar
Posting Komentar